TODAY'S HEADLINE

INFO ANEKA BISNIS MILENIAL

Popular Posts

Pita frekuensi menuju 5G di Indonesia!

Diposting oleh On May 25, 2018

broadband5g.net


Pita frekuensi menuju 5G di Indonesia!


Perencanaan pita frekuensi 1800MHz

Rencana penataan pita frekuensi 1800 MHz ditujukan untuk membuat contiguous dan mengimplementasikan neutral technology agar operator 1800 MHz dapat mengaplikasikan LTE secara maksimal. Dengan diterbitkan nya Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 19 Tahun 2015 tentang penataan pita frekuensi radio 1800 MHz untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler, kondisi pita frekuensi 1800 MHz.

Dengan kondisi pasca penataan, implementasikan LTE 1800 MHz pita 1800 MHz sesuai Peraturan Nomor 19 Tahun 2015, telah terimplementasikannya penataan pita 1800 MHz LTE 1800lP saat dilakukanub Menteri lis di h ini in MHz Indonesia.  operator Komunikasi Neutral di C tercapai. Salah 1800 MHz telah meng Berakhirnya penataan dan Informatika Technology dan telah Indonesia, maka target satu hal yang dapat dilakukan pada pita frekuensi ini adalah dengan mengembangkan teknologi 4G LTE tersebut agar performa jaringan lebih optimal dalam memberikan layanan broadband ke seluruh wilayah layanannya.

Perencanaan Pita Frekuensi 1900 MHz

Pita frekuensi 1900 MHz adalah band yang digunakan untuk operator seluler pada rentang 1903,125–1910 MHz/1983,125–1990 MHz. Tek nologi yang digunakan oleh operator seluler pada pita frekuensi ini adalah Personal Communication System (PCS) 1900. Pada perkembangannya, alokasi PCS 1900 ini dianggap berpotensi mengganggu seluler lain yang beroperasi di pita 2100 MHz. Melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 22 tahun 2014 tanggal 19 Januai 2009 tentang Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz untuk Keperluan Penyelenggaraan Telekomunikasi Bergerak Seluler dan Realokasi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,9 GHz yang Menerapkan Personal Communication System 1900 ke Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz, alokasi operator PCS 1900 direalokasi ke pita 2330-2360 MHz.

Migrasi operator PCS 1900 ke pita frekuensi 2300 MHz direncanakan selesai pada Desember 2016. Setelah migrasi selesai, maka salah satu hal yang dapat dilakukan untuk alokasi pita 1900 MHz adalah dikosongkan untuk sementara, serta melakukan riset untuk teknologi lain yang berpontesi menempati pita 1900 MHz. Hal utama yang ditekankan adalah harapan penggunaan pita frekuensi 1900 MHz agar tidak menimbulkan gangguan pada pita frekuensi radio lainnya.

Perencanaan Pita Frekuensi 2100 MHz

Pada tahun 2013, isu utama di pita 2,1 GHz pasca-seleksi pita tambahan (blok 11 dan 12) adalah terjadinya kondisi alokasi blok yang non-contiguous untuk 3 operator sekaligus, yaitu antara blok 1 dan blok 6, antara blok 9-10 dan blok 12, serta antara blok 4-5 dan blok 11. Pada kondisi tersebut, blok non-contiguous pada pita 2100 MHz lebih banyak dibandingkan pita 1800 MHz. Namun, kondisi non-contiguous blok 9-10 dan blok 12 masih lebih beruntung karena masih bisa ter-cover dalam 1 modul perangkat Radio Frequency Unit/RFU (max 20 MHz gap). Sedangkan kondisi non-contiguous pada blok 1 dan blok 6, serta blok 4-5 dan blok 11 harus berinvestasi lebih besar untuk modul RFU dalam 1 BTS karena jarak gap melebihi 20 MHz, sehingga membutuhkan 2 RFU sekaligus untuk bisa menggunakan blok-blok yang tidak contiguous tersebut. Dalam kondisi tersebut, penataan menyeluruh perlu diperlukan agar kecepatan data (throughput) dapat ditingkatkan, ketika alokasi blok bloknya telah dalam kondisi contiguous. Berikut gambaran penataan yang dilakukan oleh pemerintah ketika itu.

Setelah dilakukan penataan menyeluruh, operator yang menempati blok 8-10 mengakuisisi operator yang menempati blok 11-12 untuk melakukan merger. Syarat dari merger tersebut adalah pengembalian 2x10 MHz (blok 11 dan blok 12) pada pita 2100 MHz kepada operator yang melakukan merger tersebut. Kondisi tersebut mengakibatkan tidak termanfaatkannya pita 2100 MHz secara maksimal.

Dengan kondisi demikian, salah satu hal yang dapat dilakukan dalam perencanaan pada pita frekuensi 2100 MHz untuk implementasi layanan broadband, yaitu dengan melakukan lelang blok 11 dan 12, serta melakukan neutral technology pada pita 2100 MHz. Blok 11 dan 12 pita 2100 MHz baru dimungkinkan untuk dilakukan seleksi setelah Desember 2016 dengan memperhatikan kondisi operator PCS-1900 dan jadwal migrasi PCS-1900. Terkait rencana penataan spektrum 2100 MHz untuk contiguous, dapat dilakukan setelah dijalankannya seleksi pita frekuensi 700 MHz, 2300 MHz, dan 2600 MHz.

Perencanaan Pita Frekuensi 2300 MHz

Sebagai tambahan, perangkat telekomunikasi yang digunakan untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel yang menggunakan pita frekuensi radio 2,3 GHz wajib memenuhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sekurang-kurangnya 30 persen untuk subscriber station (SS) dan 40 persen untuk base station (BS). Secara bertahap, TKDN tersebut dalam 5 tahun ditingkatkan menjadi sekurang-kurangnya 50 persen.

Adanya band 40 menjadi salah satu potensi untuk mengimplementasikan LTE TDD pada band ini. Melihat kondisi pita 2300 MHz (2300–2400 MHz) saat ini, salah satu hal yang dapat dilakukan dalam perencanaan pada pita frekuensi 2300 MHz, yaitu digunakan teknologi LTE TDD.

Perencanaan Pita Frekuensi 2600 MHz

Pita frekuensi 2520–2670 MHz (150 MHz) saat ini digunakan untuk penyelenggaraan infrastruktur telekomunikasi bagi layanan penyiaran satelit berbayar. Sedangkan pita 2500–2518 (18 MHz) dan 2670–2690 MHz (20 MHz) saat ini digunakan untuk keperluan BWA.

S-band (2,6 GHz) digunakan untuk teknologi LTE di hampir seluruh negara di dunia, sehingga tidak mungkin operator layanan siaran TV satelit 2,6 GHz di Indonesia saat ini untuk mengembangkan coverage layanannya di luar negeri.

Ekosistem frekuensi 2,6 GHz saat ini sudah mulai jarang digunakan untuk broadcast satelite di mana berbagai negara lebih banyak mengadopsi teknologi mobile broadband di frekuensi 2,6 GHz. Negara yang masih mengadopsi frekuensi 2,6 GHz untuk broadcast satellite.

Sub-band 2600 MHz merupakan frekuensi yang paling banyak digunakan untuk implementasi LTE di negara lain. Negara-negara Eropa sub-band 2600 MHz juga termasuk dalam band frekuensi pada 3GPP Rel 8 atau Rel 9. Beberapa contoh opsi yang dapat dilakukan mengenai pita 2600 MHz, antara lain melakukan opsi band segmentation dan geographicalsegmentation.

Potensi implementasi LTE 2600 MHz sangat besar pada pita frekuensi ini. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif, antara lain dalam peningkatan layanan 4G di Indonesia.

broadband5g.net

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »