5/20/2018

Bukankah mereka juga pengam­bil risiko?


Dua tahun sebelum buku ini diselesaikan, ribuan orang di­beritakan telah menjadi korban penipuan dari sebuah kelompok yang menyebut dirinya sebagai Koperasi Langit Biru. Dalil yang diberikan adalah mereka membutuhkan banyak modal untuk mem­biayai pemesanan daging sapi yang sangat menguntungkan. Hanya dalam tempo beberapa minggu, jumlah anggota koperasi ini berlipat ganda secepat kilat, dan mereka yang menanam Rp4 juta menerima keuntungan seratus persen.


Didorong oleh bukti-bukti bahwa keuntungannya men­janji­kan, maka pu­luhan ribu orang pun bergabung. Orang-orang yang mendapatkan keuntungan menjadi lebih terpacu, menaruh uang lebih banyak. Mereka mengajak teman, saudara, dan te­tangga, lalu orang-orang itu mengajak tetangga-tetangganya. Me­reka menggadaikan surat tanah, rumah, dan kendaraan untuk men­dapatkan keuntungan yang lebih besar.


broadband5g.net

Bukankah mereka juga pengam­bil risiko?

Meski mereka mengambil risiko, harus saya katakan bukan itu risiko yang dimaksud di sini. Risiko se-perti itu diambil oleh orang-orang yang bermotif mencari keberuntungan tanpa bekerja keras. Dan mereka tidak akan menjadi “driver”. Me­reka adalah “passeng­er” yang mengharapkan hasil dari kegiatan yang 100% outcome (hasilnya) adalah random . Bahkan bisa diduga dari awal bahwa bisnis seperti ini akan sangat merugikan. Skema usa­ha seperti ini, kalau mau dipikirkan oleh para peng­ikutnya, maka mudah dibaca akan bermuara pada penipuan.

Risiko-risiko seperti yang dialami para pembeli keberun­tungan di atas biasanya diselimuti dengan janji-janji muluk seperti uang dan surga. Maka selain untung, bisnis seperti ini dibungkus dengan warna agama atau spiritual yang kental. Mo­ney game Koperasi Langit Biru misalnya dipasarkan dengan ke­tentuan bahwa umat beragama lain dilarang ikut karena tujuannya adalah “untuk menyejahterakan umat”. Dan harap Anda maklum, beberapa studi (Corriveau, 2014) menemukan bahwa anak-anak yang dididik dalam lingkungan pendidikan religius cenderung kesulitan membedakan fiksi dengan fakta.

Seorang “driver” mengambil risiko yang terukur, melaku­kannya setahap demi setahap sambil menguji kebenaran serta meningkatkan keterampilan, keahlian, dan reputasi. Dengan mengekspos diri pada “bahaya” yang terukur, seorang driver menumbuhkan kemahiran dan melatih persepsinya. Bila Anda takut terhadap risiko, ingatlah pesan para orang bijak berikut ini:

  • Berpikir saja tak akan membebaskan Anda dari risiko. Tin­dakanlah yang akan menaklukkan risiko itu. (W. Clement Stone) 
  • Dengan melangkah, maka kita akan mendapatkan kebera­nian, kekuatan, dan percaya diri. Setiap langkah yang ki­ta ambil mengajarkan kita sesuatu yang membuat kita me­lupakan segala ancaman dan risiko. Kita harus melang­kah dengan berani untuk menaklukkan rasa khawatir bahwa kita tidak bisa. (Eleanor Roosevelt) 
  • Kekhawatiran yang besar pada risiko tak punya kekuatan apa-apa. Rasa takut terhadap risiko hanya menjadikan ma­nusia tak berdaya. (Jim Morrison) 
  • Jika Anda ingin menaklukkan rasa takut, jangan berpangku tangan di dalam rumah dan diam didepannya. Pergilah ke luar, temui banyak orang,dan buatlah diri Anda sibuk. (Dale Carnegie) 
  • Namun jika naluri Anda hanya ingin meraih keuntungan diri tanpa tuntutan kerja keras dan disiplin, janganlah di­ikuti. Pada abad ini, terlalu banyak orang yang menjanjikan keberhasilan sebagai kekayaan, dan semua ini bisa dicapai tanpa kerja keras dalam sekejap. Dalam dua hari, dua jam, lalu dua menit. Semua itu adalah muslihat yang ditawarkan orang-orang bodoh. ( Anonim )
  • Risiko dan kegagalan


Salah satu ilmu manajemen yang berkembang pesat dalam se­puluh tahun terakhir ini adalah Manajemen Ri­si­ko ( Risk Mana­gement) . Ilmu ini berkembang sejalan de­ngan semakin besarnya ke­tidakpastian yang dihadap­i dunia usaha setelah ber­akhir­nya revolusi industri. Informasi cepat berubah dan beredar, produk-produk baru bermunculan, dan din­ding-dinding industri lama bertumbangan. Batas antarnegara, bahkan antarperusahaan pun pupus.

Namun dalam perjalanannya, manajemen risiko lebih ba­nyak dipakai oleh sektor keuangan, khususnya sektor perbankan, untuk mengukur risiko yang dihadapi bank bila memberikan pinjaman kepada nasabah atau sektor-sektor usaha yang berisiko tinggi. Tradisi ini semula ditujukan untuk membentuk perilaku yang lebih berhati-hati agar setiap pinjaman yang diberikan tidak berakhir dengan kegagalan. Namun disadari atau tidak, tradisi ini turut membentuk kebiasaan “menghindari risiko”. 

Terdapat perbedaan antara “menghindari risiko” dengan “meng­­hindari kegagalan”. Namun dalam praktiknya, banyak ka­­langan perbankan yang tidak bisa membedakannya. Risiko bukan­lah sesuatu yang harus dihindari. Suka atau tidak suka, ia harus dihadapi. Dan di dalam buku ini, Anda sudah melihat bahwa manusia yang menghindari risiko sama sekali adalah manusia yang “ nothing ”. Karena menghindari risiko maka ma­nusia akan “ do nothing ”. Jus­tru orang-orang seperti itulah yang harusnya dihindari. 

Lantas, apa yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan adalah bagaimana menjinakkan risiko, bukan meng­hindarinya. Risiko akan selalu ditemui, bahkan dalam situasi ekonomi yang pasti sekalipun, selalu ada saja risiko.

Shiv Khera (2007), dalam bukunya yang berjudul You Can Win , menyebutkan ada tujuh hal yang membuat seseorang gagal. Inilah yang harus dihindari. Orang-orang bermental passenger umumnya hidup dalam salah satu dari ketujuh karakter ini, sehingga mereka tidak mengekspos diri pada risiko. Ketujuh hal itu adalah: kurang gigih, kurang tekun, rasionalisasi, tidak belajar dari kesalahan, tidak berdisiplin, kurang pede , dan bersikap fa talistik.

Kurang Gigih 

Kegagalan umumnya bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau bakat, melainkan kurang gigih. Tetapi kegagalan bukanlah sesuatu yang harus segera ditinggalkan. Petani yang hebat bisa mengalami gagal panen, insinyur-insinyur NASA yang dilengkapi alat-alat yang canggih pun bisa saja gagal menerbangkan pesawat ruang angkasa ke orbitnya. Kegagalan bagi mereka hanyalah sebuah penghentian sementara, karena setelah itu mereka berangkat lagi. Orang-orang yang kurang gigih berhenti sebelum berhasil, sedangkan orang-orang yang berhasil tak pernah berhenti. Mereka bekerja siang-malam dengan penuh kegigihan.

Kurang Tekun 

Orang yang tidak tekun cenderung kurang disiplin, ka­dang setuju-kadang berubah, kadang bersemangat-kadang luntur. Tak ada yang mudah di dunia ini, kecuali sesuatu yang dilakukan dengan tekun sampai menimbulkan kemahiran. Orang-orang yang kurang tekun sering ter­bawa arus, tak punya pendirian yang kuat. Mereka ha­nya melakukan sesuatu karena ikut-ikutan, terbawa arus. Mereka ikut karena kurang percaya diri dan tak punya keberanian. Menyetujui pendapat orang lain sekalipun tidak tahu bahwa tindakannya salah.

Rasionalisasi 

Masyarakat keuangan senang melihat justifikasi yang di­ungkapkan pada beberapa lembar kertas. Justifikasi adalah pembenaran atas sesuatu yang dijalankan, dan bila gagal maka dicari justifikasi yang menjelaskan alasan kegagalan. Sebaliknya, manusia yang sering membuat justifikasi adalah manusia yang menghindari tanggung jawab. Hindarilah orang-orang yang selalu membuat alasan dan hanya me­nunjukkan.

Tidak Belajar dari Kesalahan 

Kesalahan adalah gurunya penemuan. Maka, orang yang telah melakukan kesalahan baiknya diberi kesempatan, ka­rena manusia adalah makhluk yang belajar. Sayangnya, masyarakat sering menghindari orang-orang yang pernah melakukan kesalahan dan dianggap cacat. Hanya orang-orang bodoh yang tak belajar dari kesalahan di masa lalu. Kesalahan adalah sebuah detour (jalan memutar), bukan sebuah dead end (jalan akhir, jalan buntu). Jadi, kini jelas siapa yang harus dihindari? Mereka adalah passenger yang tak belajar dari kesalahan. 

Tidak Berdisiplin 


Seorang driver adalah orang yang memiliki self discipline . Jangan hindari manusia yang pikirannya terbuka namun memiliki disiplin diri, karena mereka akan men­jadi ma­nusia yang hebat. Me­reka tidak terpecah pada akti­vitas yang di­tekuni. Orang-orang yang berpotensi gagal adalah mereka yang tidak memiliki disiplin diri. Mereka cenderung baru be­kerja kalau 

Kurang Pede 

Manusia menjadi driver karena memiliki kepercayaan diri, dan manusia yang kurang pede cenderung menjadi pas­senger . Orang-orang yang kurang pede kurang menghargai dirinya sendiri sehingga kurang mendapatkan respek. Mereka cenderung masih mencari identitas. Mereka belum menemukan jati dirinya. Jati diri itu pada dasarnya tak bisa dicari dari masa lalu, melainkan harus terus dibangun, diciptakan kembali dari masa ke masa. Kalau manusia kurang pede , mereka akan menjadi malas dan menganggur. Malas dan menganggur ibarat karat yang menggerus logam-logam keras.

Perilaku Fatalistik 

Manusia fatalistik adalah manusia yang enggan memikul tanggung jawab sosial dari posisinya dalam masyarakat. Mereka menyalahkan keberadaannya, nasib, alam, dan sebagainya. Sedangkan orang-orang yang berhasil dianggap semata-mata karena keberuntungan, bukan kerja keras. Orang-orang yang berorientasi pada fatalistik sering kali sulit maju dan bisa tetap berada dalam kesulitan.

broadband5g.net

No comments:

TIPS DAN TRIK AGAR CEPAT DIKENAL DI MEDSOS BAGI YANG SUKA JUALAN ONLINE 1. Jangan hanya menggunakan 1 media social saja, tapi...